Menurut cerita orang-orang dahulu, asal mula nama Desa Gedeg berawal dari kisah seorang yang suka mengembara dan akhirnya orang tersebut berhenti disuatu tempat. Orang tersebut membuat gubuk untuk tempat tinggal dan ia menetap ditempat itu sampai akhir hayatnya, Orang tersebut bernama mbah Surudirono. Mbah Surodirono adalah seorang yang ahli puasa dan beribadahnya tekun, ia tidak pernah tidur dan hidupnya selalu untuk beribadah dan tirakat. Untuk kelangsungan hidupnya ia bercocok tanam dipekarangan sekitar gubuknya, mbah Surodirono membangun sebuah pintu dan pagar menuju gubuknya.
Mbah Surodirono selalu menjaga pintu tersebut, jika ada orang yang masuk ketempatnya ia selalu membuka pintu dan menutup kembali jika orang tersebut pergi dari tempat tersebut.
Mbah Surodirono dihormati dan dituakan oleh penduduk sekitar gubuknya itu karena mbah Surodirono seorang yang ahli tirakat, omongannya selalu diikuti dan dihormati oleh penduduk.
Akhirnya mbah Surodirono meninggal dunia karena usianya sudah tua, penduduk sekitar memakamkan beliau di dekat gubuknya itu. Penduduk juga membuatkan pagar bambu (bahasa jawa pagar gedeg) mengelilingi makam mbah Surodirono sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.
Suatu hari bencana angin menerjang makam mbah Surodirono dan memporak porandakan tempat sekitar makam tersebut. Pagar yang mengelilingi makam roboh dan hanya tinggal bambu atau gedegnya saja yang berserakan. Penduduk kembali membuatkan pagar bambu, dibuat lebih kuat dan kokoh yang bisa menahan terjangan angin. Tapi angin kembali menerjang dan memporak porandakan tempat itu kembali, pagar bambu kembali roboh dan tinggal bambu atau gedegnya saja yang tersisa. Dengan peristiwa tersebut akhirnya penduduk memberi nama tempat disekitar makam mbah Surodirono dengan sebutan Desa Gedeg sedangkan makam mbah Surodirono disebut makam Buyut Lawang, karena semasa hidupnya mbah Surodirono betah tirakat dan selalu menjaga palang pintu menuju ketempatnya. Lambat laun semakin banyak orang yang datang dan tinggal di Desa Gedeg, karena terkenal dengan tanahnya yang subur dan mereka tetap menghormati dan menjaga makam mbah Surodirono sampai sekarang.
Itulah asal mula nama Desa Gedeg, sampai saai ini makam mbah Surodirono masih ada dan dirawat oleh penduduk Desa Gedeg.